Jumat, 26 April 2013

Bedah Kurikulum PAI SMP Tahun 2013


CIMG3107
Kurikulum 2013 yang menurut Pemerintah dalam hal ini Kemdikbudnas akan diberlakukan pada tahun ajaran baru 2013, tepatnya pada bulan Juli 2013 untuk kelas 1, dan 4 SD, kelas 7 SMP dan kelas X SMA/SMK, yang sampai saat ini masih kuat penolakan di kalangan praktisi, DPR, masyarakat pengguna, LSM dan sebagainya. Akan tetapi di kalangan praktisi pendidik ini menjadi sebuah tantangan baru untuk mengetahui lebih dalam secara analisis praktis dan filosifisnya, serta target apa yang akan dicapai dalam kurikulum 2013 ini.
Prokontra dalam suatu perubahan  sok pasti ada dan kuat, karena setiap orang atau organisasi akan berangkat dari apa yang menjadi pengalaman selama ini. Perubahan dalam bidang pendidikan sebagai salah satu bagian dari ilmu sosial, merupakan hal yang pasti ada, namun perubahan tersebut jika sudah berada di kalangan politisi akan menjadi opnini publik yang prokontra seperti komoditas politik. Namun segala yang terjadi dengan perubahan kurikulum 2013 ini yang menurut pengakuan Kemendikbud sudah dilakukan uji publik dan tinggal memunggu ketok palu di DPR, masih menyisakan berbagai hal yang perlu dikritisi bersama, sehingga para pengurus Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ( MGMP PAI SMP) Kabupaten -Kota Se Jawa Barat yang diprakarsai MGMP PAI SMP Provinsi Jawa Barat  mengadakan bedah persefektif Kurikulum Pendidikan Agama Islam SMP Tahun 2013 dengan mendatangkan nara sumber dari Puskurbuk Litbang Kemendikbud Dr. Bukhari Ismail dan Peneliti pendidikan Agama Islam sekaligus Praktisi di Perguruan Tinggi, Dr. Asep Nursobah (Dosen UIN SGD Bandung).
CIMG3117
Sementara peserta yang diundang dalam seminar bedah kurikulum  PAI SMP 2013 ini adalah para ketua dan sekretaris MGMP PAI SMP Kabupaten/Kota se-Jawa Barat, dengan terlebih dahulu mereka mempersiapkan diri dalam analisis terbatas tentang kontens kurikulum PAI SMP 2013, sehingga waktu yang disediakan panitia dianggap masih dirasakan sangat kurang.  Dalam seminar ini terungkaplah kurikulum PAI SMP ini masih dirasakan kekurangan yang harus dibenahi, hal terlepas dari waktu uji publik kurikulum 2013 yang kurang lama dan kurang melibatkan banyak pihak yang terkait  dengan kurikulum, seperti pemangku pendidikan, praktisi guru, LSM pendidikan, stakeholder pendidikan bahkan user pendidikan. Sehingga kekurangan asti dirasakan dan ditemukan di beberapa hal, terutama seperti komptensi Dasar (KD) dan Kompertensi Inti sebagai pengganti dari Standar Kompetensi (SK) yang belum terkoneksi dan terkesan dipaksakan.
Niatan kurikulum 2013 ini pada intinya terintegrasinya ilmu pengetahuan yang dimiliki peserta didik dalam sikap, perilaku dan mental spiritual kehidupan. Aapalagi pendidikan agama Islam sebagai imbas dari pola pendidikan selama ini yang lebih mengutamakan kemampuan berfikir (kognitif) dari pada afektif dan psikomotor anak didik menimbulkan generasi yang memiliki  pengetahuan tetapi secara mental masih dirasakan masih minim. Bagaimana mereka anak didik mengetahui berbohong itu dosa, akan tetapi mencari celah untuk bisa berbohong, bahkan terbiasa berbohong. Hal ini akan membahayakan generaso bangsa dan generasi umat yang sangat berada pada ambang kehancuran mental.
CIMG3122
Menurut analisis Kang Rizal Dalil dari Kota Bogor pada kritikan Kulirikum PAI SMP 2013 adalah pertama, Pada dasarnya, Kurikulum PAI pada KTSP dan Kurikulum 2013 tidak jauh berbeda. Hal ini terlihat jika kita analisis materinya tidak banyak berubah. Namun, hal yang mencolok dan membedakan dari Kurikulum 2013 adanya perubahan istilah Standar Kompetensi (SK) setiap aspek dalam PAI (Al-Qur’an, Aqidah, Akhlaq, Fiqih, SKI) menjadi Kempetensi Inti (KI), yaitu Sikap Keagamaan (KI 1), Sikap Sosial (Afektif [KI 2]), Pengetahuan (Kognitif [KI 3]), dan Penerapan Pengetahuan (Psikomotorik [KI 4]). Perubahan ini sebenarnya merupakan harapan mulia dari pemerintah yang menginginkan PAI tidak hanya berupa teori belaka, tapi mendorong siswa agar memiliki skill dan tentunya berakhlaqul karimah. Hal ini juga cukup terlihat dari ada penambahan kata “Budi Pekerti” dalam nama mata pelajaran PAI, yang walaupun tanpa penambahan kata tersebut juga sebenarnya Agama Islam sudah menjelaskan dan mengajarkan bagaimana setiap orang berbudi pekerti atau Akhlaqul Karimah.
CIMG3120 Selain itu, walaupun guru tidak disibukkan mengurusi hal administrasi pembelajaran karena Silabus dan RPP disediakan dari pusat tapi justru yang dikhawatirkan adalah semakin tidak termotivasinya guru untuk menjadi professional. Padahal tema pengembangan kurikulum 2013 (termasuk untuk guru) adalah “Insan Indonesia yang Produktif, Kreatif, dan Afektif.” Oleh karenanya, agar semangat berkreasi dan berinovasi guru harus didukung dengan memberi kewenangan guru mengadopsi, mengadaptasi, serta mengaplikasikan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan kondisi para siswa serta sekolah itu sendiri. Misalnya, guru masih diberi kesempatan untuk memodifikasi indikator, RPP, memasukkan berbagai inovasi dalam materi, media, maupun metode pembelajaran, membuat LKS yang diperlukan dalam pembelajaran, dll.
CIMG3126 Kedua, dari segi materi, sebenarnya materi PAI SMP dalam Kurikulum 2013 tidak jauh berbeda dengan KTSP. Namun, ternyata kalau kita anlaisis KI dan KD PAI SMP Kurikulum 2013 ada beberapa yang perlu disempurnakan, di antaranya adalah sbb:
a. Materi Akhlaq tidak diajarkan secara tersendiri, namun tergabung dalam materi Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa akhlaq bukan hanya bersifat teori tapi harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta mempelajari Al-Qur’an bukan hanya sebatas membaca dan menghafal tapi harus diamalkan apa yang terkandung dalam ayat tersebut. Namun, karena tidak ada materi khusus yang membahas tentang Hukum Tajwid maka perlu dimanfaatkan alokasi waktu 1 x 40 menit untuk memberikan materi tambahan seputar Hukum Tajwid dan BTQ.
b. Materi zakat tidak ada, baik dalam KI-KD Kelas VII, VIII, maupun IX. Materi zakat seharusnya diajarkan kepada para siswa karena termasuk bagian integral dari Rukun Islam yang tidak boleh dipisahkan apalagi dihilangkan. Bahkan begitu banyak ayat Al-Qur’an yang menggandengkan kewajiban sholat dengan zakat yang menunjukkan pentingnya kewajiban zakat. Jika alasannya karena materinya terlalu komplek dan susah, maka materi zakat tidaklah terlalu komplek/sulit jika dibandingkan dengan materi-materi dalam pelajaran Matematika atau Fisika dengan hitungan/rumus yang lebih sulit bagi siswa SMP. Adapun penilaian KI 4 nya, guru bisa menggunakan ”Zakat Game” dan daftar/rubrik nilai siswa. Selain itu, alangkah baiknya penyampaian materi zakat ditambah dengan materi tentang Infaq dan Shodaqoh agar menambah wawasan serta membiasakan para siswa untuk berbagi kepada sesama yang bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu mencapai nishob dan haul. Sehingga untuk penilaian KI 1 dan KI 2 (Infaq dan Shodaqoh), guru bisa memanfaatkan data dari hasil pengawasan secara langsung dan Buku Laporan Ibadah Siswa.
CIMG3129
c. Materi ”Sejarah Nabi Muhammad SAW” sebaiknya dibagi dua: Periode Mekah diajarkan di kelas VII semester 1, sedangkan Periode Madinah diajarkan di kelas VII semester 2. Agar lebih menarik siswa, dalam penyampaian materi ini sebaiknya dimanfaatkan media pembelajaran berupa video/DVD ”Ar-Risalah”,
d. Materi ”Khulafaur Rasyidin” sebaiknya disampaikan pada kelas VIII semester 1
Ketiga, Dari segi penilaian, guru dituntut extra kerja keras dalam penilaian karena guru juga harus menilai Sikap Keagamaan (KI 1) dan Afektif (KI 2) secara terukur disamping penilaian aspek Kognitif (KI 3) dan Psikomotorik (KI 4). Yang jadi pertanyaan adalah seperti apa format penilaian KI 1 dan KI 2 yang cukup sulit dan perlu pengawasan yang extra dan secara berkelanjutan? Siapa yang membuat format penilaian, pihak pemerintah atau diserahkan kepada para guru untuk mendesain format penilaian KI 1 dan KI 2?
CIMG3104 Sebagai bahan masukan, untuk penilaian KI 1, guru bisa menggunakan penilaian portofolio, misalnya berupa Buku Laporan Ibadah Siswa. Sedangkan untuk penilaian KI 2, guru bisa menggunakan rubrik/format penilaian yang dibuat khusus untuk menilai afektif siswa saat PBM berlangsung, serta ditambah Buku Catatan Perilaku Siswa. Tapi, lagi-lagi penilaian ini sangat membutuhkan keseriusan, extra pengawasan, dan kerja sama baik dari setiap siswa, guru, maupun orang tua siswa. Sehingga, laporan/format penilaian tersebut bukan hanya formalitas, sekedar diisi dan dikumpulkan tanpa tindak lanjut.
Keempat, Dari segi alokasi waktu, Alhamdulillah, dengan idzin-Nya serta pejuangan para guru PAI, mujahid dakwah yang kemudian direspon oleh pihak pemerintah maka dalam struktur Kurikulum 2013, PAI SMP diajarkan 3 jam pelajaran setiap minggunya. Penambahan jam pelajaran PAI SMP sangat menguntungkan bagi para siswa agar bisa lebih mendalami ajaran Islam yang begitu luas nan penting. Namun, jika para guru PAI masih mengajar dengan cara yang konvensional serta kurang kreatif dan inovatif maka dikhawatirkan PAI dengan 3 jam pelajaran menjadi pelajaran yang dianggap membosankan.
CIMG3128 Oleh karenanya, ghiroh seorang guru sangat penting untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Ketika guru PAI kreatif dan inovatif, mampu menyampaikan pembelajaran dengan berbagai metode dan media pembelajaran yang variatif, efektif, dan bermakna maka diharapkan para siswa mengidolakan mata pelajaran PAI, mencintai gurunya, dan pada akhirnya amat diharapkan mereka mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketika tertanam cinta sejati ini tentunya akan menjadi motivator yang kuat bagi para siswa untuk memperdalam serta mengamalkan ajaran Islam tanpa batasan ruang dan waktu. Oleh karena itu, seharusnya setiap guru PAI berusaha menyampaikan PAI kepada para siswa dengan model pembelajaran yang efektif dan bermakna.
Yang menarik di sini, Dr. Asep Nursobah dalam menutup analisis tentang Kurikulum 2013 masih ditemukan beberapa hal yang harus diperbaharui, karena produk tertentu yang menyebutkan dalam iklanya all-new saja hanya tampilan tertentu saja yang mengalami perubahan, sementara yang lainnya masih menggunakan hal yang lama. Begitu pula dengan perubahan kurikulum 2013 ini, walaupun dikatakan baru hasil perubahan dari kurikulum sebelumnya, akan tetapi perubahan tidak serta merta berubah secara drastis. Hasil analisis beberapa orang yang menghasilkan kurikulum tentu akan mengalami kekurangan di sana-sini, apalagi ini hanya buatan manusia yang tidak pernah sempurna, sehingga dibutuhkan kritikan dan masukan dari berbagai elemen masyarakat yang peduli dengan pendidikan, apakah itu MGMP,temuan dalam penelitian ilmiah, praktisi, stakeholder, user pendidikan maupun LSM, serta para pengguna out-put pendidikan.
Untuk itu kami sebagai  organisasi praktisi pendidikan tidak pernah berhenti melakukan kajian dan penelitian tentang pendidikan demi kebaikan pendidikan kita ini. Apa yang bisa dilakukan selama ini jangan pernah membuat puas dengan apa yang kita lakukan dalam perbaikan ke depan. Segala kritikan dan masukan akan lebih kuat jika dipublikasikan dalam sebuah opnini baik di media masa, maupun media yang tersedia.
Bravo, Salam GPAI
Oleh Ruhyana

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates